3G Online Trading

Great, Good, Gain With Our Online Trading

  • GREAT, GOOD, GAIN! INVEST YOUR MONEY NOW! AS EASY AS 123

News Sesi I 5 Oktober 2010

Posted by Rinto On 9:30 AM 0 comments

Online Trading - News 3G Online Trading. News Sesi I :
Penguatan IHSG Semakin Terbatas
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin ditutup menguat lagi sekaligus berhasil mempertahankan level psikologis 3.500. IHSG bahkan sempat mendekati level 3.600 sebelum akhirnya terganjal profit taking.Pada penutupan perdagangan Senin, (4/10/2010), IHSG ditutup menguat 22,383 poin (0,63%) ke level 3.569,498. Sedangkan Indeks LQ 45 juga naik 5,359 poin (0,80%) ke level 667,005.


Investor tampaknya tidak akan terlalu terpengaruh oleh Rapat Dewan Gubernur BI yang digelar siang ini. BI diprediksi akan mempertahankan BI Rate di kisaran 6,5% seiring makin lunaknya tekanan inflasi.Sementara Indeks saham di bursa Wall Street berakhir di teritori negatif seiring profit taking setelah kenaikan tajam sebelumnya. Indeks saham melemah dalam volume transaksi yang super minim akibat melorotnya saham Microsoft Corp dan American Express.

Pada perdagangan Senin (4/10/2010), indeks Dow Jones ditutup melemah 78,41 poin (0,72%) ke level 10.751,27. Indeks Standard & Poor's 500 juga melemah 9,21 poin (0,80%) ke level 1.137,03 dan Nasdaq melemah 26,23 poin (1,11%) ke level 2.344,52.Sedangkan Bursa Jepang juga dibuka langsung melemah. Indeks Nikkei-225 dibuka turun 43,63 poin (0,47%) ke level 9.337,43.permintaan baja dunia akan meningkat 5,3 persen pada 2011 menjadi 1,34 miliar ton. Ini merupakan level tertinggi sejak semester I-2008.Peningkatan permintaan dipimpin oleh China, tapi Eropa juga terus mengomsumsi baja dalam volume yang tinggi.permintaaan diramalkan naik 13,1 persen menjadi 1,27 miliar ton. Kemungkinan Permintaan baja China tahun depan bisa melonjak 42 persen dibandingkan kondisi 2007.

BWPT Serahkan Obligasi Rp700 M

PT BW Plantation Tbk (BWPT) telah menyerahkan dokumen penerbitan obligasi sebanyak-banyaknya Rp700 miliar kepada Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) pekan lalu."Saat dokumentasi penerbitan obligasi BWPT masih diproses di Bapepam-LK, dokumentasipenerbitan obligasi kita sudah berikan minggu lalu dan berharap pra efektif dapat keluar minggu ini," ujar Sekretaris Perusahaan BWPT Kelik Irwanton.Kelik menuturkan, penerbitan obligasi tersebut maksimal sebesar Rp700 miliar. 

Sepertidiketahui, PT BW Plantation Tbk (BWPT) berencana menerbitkan obligasi maksimal Rp700miliar yang akan digunakan untuk ekspansi usaha pada 2011 dan 2012. Perseroan menargetkanpenerbitan obligasi dilakukan pada November 2010. dana hasil penerbitan obligasiitu juga akan digunakan untuk refinancing utang sebesar 20%-30%. Perseroan akan melakukan refinancing utang jangka pendek. 

peringkat A untuk PT BW Plantation.Tbk (BWPT) beserta obligasi I/2010 sebesar Rp700 miliar dengan prospek stabil. BWPT adalah produsen minyak mentah (CPO) yang didirikan pada November 2000. Pada akhirJuni 2010, total area milik perusahaan mencapai 96.175 hektar terdiri dari 46.048hektar area perkebunan kelapa sawit dan 50.127 area yang belum ditanami. Saat ini,BWPT didukung oleh 390 karyawan, dilengkapi dengan 2 pabrik pengolahan kelapa sawit semuanya berlokasi di Kalimantan Tengah.

PGN kejar pembangunan FSRT Teluk Jakarta
PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) berharap pembangunan proyek LNG floating storage receiving terminal (FSRT) di Teluk Jakarta (Jawa Barat) dan Belawan (Sumatra Utara) bisa segera berjalan tahun ini setelah kontrak pasokan gas dituntaskan.Corporate Secretary PGN M. Wahid Sutopo mengatakan dari dua proyek terminal LNG yang sedang dipersiapkannya, PGN akan mendahulukan pembangunan Terminal LNG di Teluk Jakarta. Pasalnya, persiapan terminal tersebut sudah lebih jauh ketimbang Terminal LNG Belawan.

Adapun persiapan Terminal LNG Belawan saat ini baru pada tahapan menegoisasikan pasok. Wahid menjelaskan jika persiapan akan kepastian pasok belum selesai, pihaknya belum bisa memulai pembangunan fisik dari terminal tersebut. Pembangunan terminal LNG di Belawan dan Teluk Jakarta diperkirakan menelan investasi sebesar masing-masing sebesar US$200 juta-US$250 juta. Wahid menyebutkan pihaknya akan mengambil sumber pendanaan dari kocek internal dan eksternal.

Akan tetapi, dia enggan mengatakan secara terperinci besaran komposisi dana dari internal dan eksternal dari tiap terminal. Wahid pun tidak mau menyebutkan asal pendanaan eksternal yang akan digunakan untuk pembangunan dua proyek tersebut.Selain terus mematangkan persiapan pembangunan dua terminal tersebut, PGN juga terus menjajaki kemungkinan akuisisi lapangan ataupun blok minyak dan gas (migas) guna meningkatkan kapasitas produksi. 

Terkait masalah pendanaannya, opsi pendanaan yang disiapkan PGN nantinya tergantung pada seberapa besar biaya akuisisi tersebut. Sumbernya bisa dari internal dan eksternal. PGN juga tengah memikirkan penambahan perangkat produksinya baik yang berupa pipa transmisi untuk jarak jauh ataupun pipa distribusi.Penambahan tersebut akan ditentukan oleh peningkatan kebutuhan.

Lebih lanjut, dia menyebutkan beberapa wilayah yang permintaan gasnya tinggi antara lain Jawa Timur dan Sumatra Utara. PGN saat ini memiliki jaringan pipa transmisi terbaru untuk Jawa Barat-Sumatra Selatan. Sementara itu, pipa distribusi terbaru untuk penyaluran Jawa bagian Barat.

Pada semester I/2010, PGN mendistribusikan gas bumi sebesar 827 MMscfd (juta kakl kubik per hari) atau mengalami kenaikan 9% dibandingkan dengan periode yang sama 2009 sebesar 756 MMscfd. Peningkatan juga terjadi pada volume transmisi harian pada semester I/2010 yang sebesar 848 MMscfd atau naik 11% jika dibandingkan dengan semester I/2009 sebesar 763 MMscfd.

BNI  Dapatkan  Tender  Danai Pengadaan Alutsista Rp600 M

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) terpilih sebagai bank pemenang lelang fasilitas pinjaman dalam negeri untuk membiayai pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI dan Polri senilai Rp600 miliar. Fasilitas kredit ini didudukan dalam sebuah Perjanjian Kredit (PK) Induk dengan jangka waktu 8 tahun. "Bunga pinjamannya JIBOR+1,1 persen," ujar Kepala Pembiayaan BNI Rosa Delima Dwi Mutiari di kantor Kementerian Keuangan.

Pemberian fasilitas kredit untuk Pembiayaan Dalam Negeri Alutsista ini ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kredit antara Direktur Utama BNI, Gatot M. Suwondo, dengan Rahmat Waluyanto, Dirjen Pengelolaan Utang Kementrian Keuangan, serta disaksikan Menteri Keuangan Agus Martowardojo dan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro pada hari ini di Jakarta.

Dirut BNI Gatot M Suwondo mengungkapkan, pemberian fasilitas kredit ini bagi BNI merupakan sebuah bukti komitmen BNI untuk mendukung program pemerintah dalam pengembangan sistem pertahanan melalui penyediaan alutsista TNI dan Polri. Selama ini BNI telah menyalurkan kredit ini kepada BUMN Industri Strategis, antara lain PT PAL, PT Pindad, PT Dahana, PT Austamindo dan PT Bhineka Persada Marketindo. Total maksimum kredit yang disalurkan BNI ke BUMN Industri Strategis hingga Agustus 2010 mencapai Rp 2,26 triliun. Pencairan pinjaman Dalam Negeri Alutsista ini diproyeksikan mulai direalisasikan di Triwulan IV 2010.
 
Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) salurkan pinjaman  Rp1 triliun kepada Telekomunikasi Indonesia (Telkom).
 Demikian diungkapkan Kepala Pembiayaan BNI Rosa Delima Dwi Mutiari di kantor Kementrian Keuangan, Senin (4/10). "Sebentar lagi (cair), Telkom itu kurang lebih itu Rp1 triliun, bilateral," ujarnya. Ia mengungkapkan, penandatanganan kesepakatan akan dilakukan pada 12 Oktober 2010. Telkom merupakan salah satu dari perusahaan yang pinjamannya akan cair dalam waktu dekat ini. 

Pinjaman tersebut nantinya akan digunakan untuk menambah belanja modal Telkom. "Lagi dikejar nih, bisa 3-4 dan 5 (perusahaan). Telkom nanti tanggal 12. Bunganya based on JIBOR 3 bulan. Lebih tinggi dari ini (pinjaman alutsista) yang jelas. Temponya 5 tahunan," jelasnya. Dalam pipeline BNI, ada sekitar Rp16 triliun untuk jumlah kredit korporasi. "Rp5 triliun alutsista, jalan tol Rp6 triliun, energi juga sekian triliun, Telko Rp5 triliunan,"
 
Stock Split BRI Baru Dilakukan 2011
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) baru akan melakukan pemecahan nilai saham (stock split) pada tahun 2011 mendatang. Mundur dari rencana awal di 2010 ini."Eksekusi stock split tidak akan tahun ini, mungkin tahun depan," ujar Direktur Keuangan dan Internasional BRI, Achmad Baiquni.Achmad mengatakan, perseroan belum memutuskan rasio stock split. Hingga saat ini rasio stock split masih terus dilakukan pendalaman. "Kalau rasio belum, masih dikaji,"

Sebelumnya, BRI menginginkan harga saham perseroan usai pemecahan nilai saham  berada di level Rp 3.000-5.000. Kepastian rasio stock split akan ditentukan kemudian.Pada bagian lain Achmad mengatakan BRI akan menggunakan dana internal untuk mengakuisisi PT Bank Bukopin (Bukopin). Dana Internal tersebut dapat berasal dari laba yang ditahan.

"Kita menggunakan dana internal, kita kan punya laba yang ditahan, tidak dibagikan”. Hingga saat ini jumlah tersebut masih terus dalam perhitungan.Untuk akuisisi lainnya, Pihak yg bersangkutan  juga belum melakukan pembicaraan lebih lanjut mengenai rencana akuisisi PT Bank Agroniaga meski telah mendapatkan restu dari pemerintah.Masih terlalu awal untuk membicarakan aksi korporasi tersebut. BRI juga belum memutuskan untuk masuk melalui akuisisi atau pun rights issue.

"Belum ada pembicaraan dengan manajemen, kita baru mengutarakan niat. Kita menyatakan minat kalau mau akuisisi. Terlalu awal kalau kita mengatakan itu kalau kita mengakuisisi.
Bidik Komisi Rp 18,3 Miliar dari Remitansi. Selain itu BRI menargetkan pendapatan non bunga (fee based income) dari bisnis jasa pengiriman uang atau remitansi pada tahun 2010 sebesar Rp 18,3 miliar. selama tahun 2008 fee based income dari bisnis remitansi hanya sebesar Rp 5,6 miliar dan pada tahun lalu sebanyak Rp 14,1 miliar.

pada tahun 2010 pertumbuhan fee based income BRI untuk transaksi trade finance ditargetkan mencapai 11%. Atau sekitar Rp 150 miliar, karena pada tahun sebelumnya hanya Rp 134 miliar di 2009,  hingga akhir Juni tahun 2010, fee based Income BRI dari hasil trade finance telah mencapai sekitar Rp 97 miliar. "Kontribusi terbesarnya dari transaksi ekspor senilai US$ 854,5 juta. Angka Rp 97 miliar tersebut mengalami kenaikan sekitar 37% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.



Head Office :
PT Asjaya Indosurya Securities
Gd. Grha Surya Lt. 2
Taman Perkantoran Kuningan
Jl. Setiabudi Selatan I Kav. 9
Jakarta Selatan
Telp : 021 - 5790 5068
Indosurya Trade Online Trading System

Categories: , , ,

0 Response for the "News Sesi I 5 Oktober 2010"

Post a Comment